Gagal Hari Ini, Sukses Menanti Esok!

Bismillahirrahmanirrahim.....

Pernah merasa terpuruk? Sudah berusaha keras namun kenyataannya hasil tidak berpihak kepada kita? Merasa gagal dan seperti berada di titik nol! Hmm, kata D'masiv sih, jangan menyerah. Kalau kata orang sih gagal itu sukses yang tertunda


Yes, memang sih teori tidak semudah dengan prakteknya. Perasaan bersalah, kecewa dan hal lain akan berkecamuk di dalam dada dan semua akan bercampur jadi satu. Namun, akankah kita terus berada pada keadaan yang seperti itu? Meratapi nasib? Menyesali kegagalan? Sepertinya bukan hal yang seharusnya dilakukan. 

Sebagai umat beragama pun, Tuhan tidak menyukai umatNya yang seperti demikian. Sebaliknya, disaat yang seperti inilah kita seharusnya kembali kepadaNya. Semakin mendekatkan diri, meminta ampun dan memohon pertolonganNya. Mungkin kita terlalu percaya diri jadi lupa bahwa semua ini milik yang Maha Segalanya. Kita terlena oleh dunia dan jadi sombong, merasa bahwa semua bisa tercapai sesuai dengan yang kita rencanakan.

Postingan kali ini sebagai tanggapan atas trigger post Jenk Ririn untuk Be Molulo. Tema yang berat namun wajib diselesaikan. Harusnya tayang bulan lalu namun sayanya gagal menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Pusing mau ceritakan kegagalan yang mana lagi. Rasa-rasanya sejak ngeblog semua curhat random rasa nano-nano udah pernah dibahas disini.

Baca juga: Semangat Kartini Semangat Wanita Hebat Indonesia

Seperti yang pernah saya cerita waktu kuliah dulu, saya selalu membuat daftar semua mata kuliah yang saya ambil di semester tersebut dan menargetkan nilai yang akan saya peroleh. Harusnya sih target A semua yah, namanya juga target. Tapi saya tidak mau muluk-muluk, tidak semua saya targetkan A karena saya mengukur kemampuan sendiri juga sih. Disamping itu lihat juga siapa dosen yang mengajar untuk mata kuliah (matkul-red) tersebut, secara gak semua dosen kan subjektif, ada yang realistis dan betul-betul memberi nilai seobjektif mungkin sesuai dengan kemampuan mahasiswanya. 

Nah, di semester 6 saya pernah gagal dapat nilai yang sudah saya targetkan. Tidak tanggung-tanggung ada 2 matkul yang dapat nilai D, mana lagi salah satu matkul tersebut SKSnya tinggi, 3 SKS yang sukses buat IP saya meluncur bak anak kecil sedang main prosotan. Fiuuuhh! Lemas lihatnya. Gak tahu juga sih kenapa nilai saya memang selalu merosot di tiap semester genap. Tapi up lagi di semester ganjil, selalu seperti itu. 

Oke, back to dua nilai yang ancur tadi. Jadilah saya harus mengulang matkul tersebut di semester genap lagi kalau mau nilai di transkrip berubah. Kalau ngulang di semester genap artinya harus nunggu setahun lagi? Itu artinya (banyak banget yak artinya :p) gak bisa lulus dengan masa waktu kuliah 4 tahun dong seperti idealnya. Halaah, itu kan idealnya. Sayangnya jurusan saya kala itu jarang banget yang bisa selesai tepat waktu. Senior saja masih banyak yang berseliweran, apalah saya ini yang nilainya segitu saja, hihihih. Tak apa-apalah, saya tetap optimis bisa menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Jadi semester genap berikut sambil KKP, susun proposal dan juga kuliah. Singkat cerita semua berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. KKP Alhamdulillah beres dengan nilai yang memuaskan dan kedua nilai tadi juga sudah berhasil disulap berubah menjadi lebih baik, satunya dapat A dan satu lagi B, Alhamdulillah.

Baca juga: Optimisme: Kunci Sukses Meraih Mimpi

Saya rasa, [hampir] setiap orang pernah merasakan gagal. Punya kegagalannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapi kegagalan itu. Untuk terus diratapikah? Berdiam diri tanpa harus berusaha bangkit dari kegagalan itu sendiri ataukah berusaha dan maju? Moving on! Jika memilih bangkit, maka kegagalan bisa menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga dan tak ternilai. Saya percaya bahwa gal itu ada agar kita terus berusaha dan tidak gampang berputus asa, pun agar kita juga bisa merasakan berada di bawah tidak selalu berada di atas. Gimana? Betul apa benul nih? Hihihih, udah ah cukup sekian dulu deh postingan sok motivasi kali ini. Seperti biasa, boleh banget yah share pengalamannya agar kita bisa saling belajar 😉

Akhir kata, mumpung masih berada di bulan Syawal izinkan saya mengucapkan permohonan maaf yang tulus dari hati. Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Bathin. Maafkan atas segala salah dan khilaf selama ini 🙏🙏



8 comments:

  1. Maaf lahir batin juga sai

    ReplyDelete
  2. Sama-sama, maaf lahir batin juga..

    ReplyDelete
  3. Maaf lahir batin, cyiiin ;)
    Ternyata, setiap orang punya cara sendiri2 menyikapi kegagalan :D

    ReplyDelete
  4. Gue pernah bener2 terpuruk karena gagal di wawancara kerja.. Bener bener terpuruk sampe akhirnya memutuskan gak mau ikutan wawancara lagi,. Tapi sekarang udah mencoba untuk "bangkit" lagi dengan cara "mau ikutan" wawancara. Tapi gak pernah ada kesempatan buat ikutan --_--

    ReplyDelete
  5. Mohon maaf lahir batin juga ya Mbak. Emang hidup ini harus terus bangkit, jangan menyerah.

    ReplyDelete
  6. keren...
    dari yang awalnya D menjadi A dan B
    Mohon Maaf Lahir Batin.. juga ya mbak

    ReplyDelete
  7. utangku yang ini juga belum phe sa lunasi, hiks 😪

    ReplyDelete
  8. Tidak mudah bangkit dari sebuah kegagalan. Itu yang saya rasakan sekarang... tapi saya tetap berusaha.

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa setelah membaca :)

Nama yang jelas yaaa, NO ANONYMOUS please!! ^___^
Mohon maaf Link Hidup tidak akan diapprove :)

^^thanks for reading^^