Tuesday, January 10, 2017

Kembali Bekerja Setelah Punya Anak

Bismillahirrahmanirrahim.....

Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa mulai bulan ini akan ada beberapa project kolaborasi dengan beberapa Sahabat Blogger saya. Eiiits sebenarnya bukan mulai bulan ini sih, udah dari bulan lalu ada project lain tapi lebih ke blog sebelah. Nanti deh akan ada post tersendiri untuk ini, yang sekarang saya mau cerita tentang project kolaborasi saya dengan Uciggg - Mamingnya Kaina dan Adik Ashika yang menggemaskan itu 😇



Ini sebenarnya udah dari beberapa bulan lalu bahas ke Uci tapi kami masih maju mundur dengan alasan nanti gak konsisten karena mengingat kesibukan kami masing-masing. Tapi sejak bulan lalu Uci punya project sendiri untuk blognya, naahh kenapa gak sekalian disatukan aja ide kolabnya. Maka jadilah kolaborasi ini yang ceritanya akan mengusung tema seputaran keluarga gitu deh dan untuk postingan perdana ini kami sepakat untuk membahas topik ini "Kembali dan Berhenti Bekerja Setelah Punya Anak" kebetulan banget kami berdua mengalaminya. Saya kembali bekerja setelah punya anak, sedangkan Uci Berhenti Bekerja Setelah Punya Anak. Ayoo mampir ke blog Uci juga yah untuk tahu lebih lanjut ceritanya. Lalu saya? Mari lanjut baca sampai tuntas yuukks 😉

Baca juga: Catatan Mama Bekerja (Lagi)

Menjadi wanita bekerja [di luar rumah] adalah hak semua orang, begitupun bagi mereka yang tidak menginginkannya. Tetap bekerja setelah menikah dan punya anak adalah salah satu keputusan yang bisa dibilang berat. Tanggung jawab juga pasti lebih berat lagi karena harus bisa adil dalam membagi waktu dan pikiran; antara pekerjaan maupun kewajiban utama sebagai seorang Istri dan juga Ibu. 

Keputusan yang saya ambil untuk bekerja lagi tidak serta merta atas keinginan saya sendiri tapi dukungan datang dari Pak Suami juga tentunya, itu yang utama buat saya karena setelah menikah kan Suami-lah yang bertanggung jawab atas Istrinya *itu menurut saya*

Sebulan setelah menikah, saya resmi non job di luaran karena saat itu project saya sudah berakhir untuk wilayah regional. Saat itu kantor pun juga telah ditutup. Meskipun saat itu Suami saya sangat menyarankan saya untuk mencari kerja lagi tapi saya tidak ambil pusing, saya ingin istirahat di rumah saja saat itu. Alhamdulillah, masuk bulan ketiga menikah ada kabar baik bahwa saya positif hamil. Yaay, ini buat saya makin semangat ingin di rumah saja. Beberapa kali Pak Suami bertanya apa saya tidak ingin cari kerja lagi? Dan dengan santai saya menjawab "mana ada perusahaan/kantor yang mau menerima orang hamil. Baru beberapa bulan kerja sudah minta cuti melahirkan dan minta dibayar pula" xoxoxoxox. Saya pun menikmati masa-masa indah kehamilan. 

Tidak bekerja kantoran bukan berarti saya tidak bekerja sama sekali, lah di rumah juga pekerjaan saya tidak kalah banyaknya koq. Gimana Buibu, bener kan? Pekerjaan rumah itu lebih banyak dibanding di luar, tapi Alhamdulillah semua bisa dilewati. Enaknya di rumah kita bisa bobo siang, heheheh. 

Hingga suatu hari, seorang Teman di project sebelumnya memforward email lowongan kerja ke saya dengan posisi lebih tinggi daripada sebelumnya. Saat lihat email itu saya galau antara mau apply dan tidak karena saya tahu diri klo pengalaman saya belum bisa untuk menempati posisi tersebut. Tapi kata Teman saya tadi, ayo saja dicoba siapa tahu rejeki. Malah sempat saya diamkan, hingga saya lihat lagi bahwa sudah mendekati deadline apply. Lagi-lagi, saya berfikir jangan-jangan sebenarnya ini hanya sekedar formalitas saja karena jarak antara munculnya iklan dan batas akhir submit aplikasi lamaran itu sangat singkat. Aahh, koq saya jadi banyak fikiran gini yah? :p 

Saya coba deh tanya ke Pak Suami dan dia sangat senang mendapat kabar itu. Katanya "coba saja, mana tahu rejeki". Yasudah, Bismillah. Nothing to lose ajalah. Bisa lulus, Alhamdulillah. Tidak pun tak mengapa. Artinya saya memang harus lebih fokus ngurus keluarga. 

Dengan dasar nothing to lose tadi, saya pun santai saja. Hingga suatu sore ada email masuk yang berisi undangan interview, tapi dengan posisi berbeda. Nah looo, benar deh feeling saya bahwa CV saya belum pas untuk menempati posisi yang saya apply beberapa waktu yang lalu itu. Sebelum balas email tersebut, lagi-lagi saya tanya ke Pak Suami bagaimana baiknya ini. Tapi lagi-lagi Beliau bilang lanjut saja. Yasudah saya pun membalas email tersebut dan menyanggupi untuk interview sesuai jadwal yang ditentukan, by phone tentunya karena gak mungkin juga saya terbang ke Jakarta sana untuk interview ini yang belum jelas hasilnya, hihihih.

Besoknya interview berjalan lancar. Alhamdulillah, saya bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Di akhir interview tersebut diinformasikan bahwa akan diberitahukan hasilnya via email selanjutnya. Apakah akan ada interview selanjutnya atau berakhir di tahap ini saja. Saya sih optimis dengan hasilnya, malah saya dengan penuh percaya diri bisa bergabung dalam tim tersebut, heheh. Dan yeaah, benar saja email berikutnya saya dapat kabar bahwa akan dijadwalkan untuk interview berikut. Singkat cerita saya pun menjalankan semua tahap perekrutan ini dan mendapatkan email tawaran gaji, which is ini adalah pertanda baik. Bisa dibilang lamaran saya diterima 80% oleh pihak manajemen. 

Membaca email tawaran tersebut saya malah jadi bingung, gimana nanti dengan Faraz anak saya? Selama ini kami tidak pernah pisah sehari pun. Bisa dibilang 24 jam sehari saya berada di sampingnya. Saya pun kembali bertanya ke Pak Suami untuk langkah selanjutnya yang lagi-lagi dia berkata: maju. Bahkan hingga sebelum menandatangani kontrak kerja saya masih galau; terima atau tidak. Tapi Pak Suami benar-benar mendukung saya. Dia malah gak pengen saya cuma berdiam diri di rumah karena dia tahu saya sudah terbiasa untuk bekerja. Dia juga yakin bahwa saya bisa tetap mengurus Anak kami meskipun saya bekerja. Dengan dukungan penuh dari Suami dan juga Keluarga terdekat, saya pun menandatangani kontrak kerja tersebut. 

Bagaimana perasaan saya setelah bekerja kembali? Jujur saja dilema itu terkadang datang, terlebih lagi jika harus meninggalkan Faraz yang pake acara drama gak mau ditinggal. Atau Faraz yang berbuat kacau di rumah Mama, bertengkar ala anak-anak dengan saudara-saudara (sepupunya) dan kenakalan-kenakalan lainnya yang bikin saya jadi baper. Iyah, Faraz udah gak dititip di daycare lagi sejak beberapa bulan belakangan ini. 

Untungnya ada Pak Suami yang selalu menguatkan, support darinya itu jadi seperti suntikan vitamin buat saya agar bisa lebih tegar menjalankan peran saya sebagai Ibu, Istri dan juga Karyawati ini. Begitupula bantuan Keluarga saya yang setia menjaga Faraz ketika saya bekerja, tanpa mereka semua mungkin saya sudah dari beberapa waktu lalu telah mengajukan surat resign dan meneruskan peran sebagai ketua DPR saja aka dapur, xixixix. 

Bukankah hidup itu adalah pilihan? Dan ketika kita telah memilih jalan hidup kita, saatnya kita menjalankan peran kita sebagaimana mestinya. Bertanggung jawablah atas segala pilihan yang telah kita buat dan nikmati setiap prosesnya :)

Jangan lupa bahagia yah^^



 

19 comments:

  1. Dii, nggak sia2 ke jkt ya utk interview..
    Pokonya bertanggung jawab ya mau di rumah atau kantor, aku setuju hal ini. Ada yg drmh tapi kadang kondisi anaknya memprihatinkan....
    Farax udah pinter ya skrg ngertiii mama kerja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciii, salah baca ya?? interviewnya by phone Uci :D
      iyah Ci, semoga saya bisa adil seadil2nya yah, hihihih
      Alhamdulillah Ci, Faraz sekarang udah pintar klo pagi mau ditinggal gak pake drama lagi, kadang aja sih klo bangun paginya terganggu atau lbh cepat dari biasanya rada rese tp dia udah lebih ngerti koq, pintar banget dia, sabar :D

      Delete
    2. Aku baca pas baru bangun tadi hahaaa.. Terus siangnya langsung komen. Kelilipan apaan yaa akuh :)) jadi Faraz pinter yaa sekarang klo ditinggal mama.. Dikit kan dramanya diii
      Aku typo lagii, farax itu sopoo. Haduh...

      Delete
  2. huaa saya banget iniiih. saya malah gak pernah berhenti bekerja sejak dari pacaran hingga sekarang, hanya berhenti sekitar 3 bulan sahaja alias saat cuti melahirkan saja, hihihi LD

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaaaa Kak Iraaaa, gimana perasaanta itu?? apalagi menjalani LDM gitu...
      semangaaat juga Kak ^^

      Delete
  3. Ohh.. Faraz sudah ndak di daycare lagi kah? Dan kenapa diii? Tiba-tiba sa ingat kelakuannya Faraz yang lengket sama tante cantik, bertahan hanya mau panggil kakak dan tidak mau digendong oleh emaknya sekalipun! Bhahah..

    Semangat kerja mama-mama rajin lembur :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hoooo, sudah lamami Onty. dilarang ma Tante Ati, jadi dia bolak balik dititip antar rumah kodoong yg mana saja Neneknya yg available :D
      hahahahh, iyooo diii kenapa diii itu?? padahal Onty Irna ready ji jg meggendong itu toohh :p

      Delete
  4. Alhamdulilah semuanya nyuport ya
    Peran paksu di sini emang dibutuhkan banget,
    Waktu kerja di jkt dulu, aku justru pengen banget ngaso bentaran di rumah sambil promil2 cantik (karena aku orangnya suka stress karena pekerjaan di bawah tekanan, baik jarak kantor rumah yang jauh sehingga pake krl en sering pulang malem) sama di satu sisi benefit yang diterima agak ga sesuai dg effort kerjaan akhirnya aku pilih resign, ga tau sementara atau selamanya. Yang jelas ketika aku kerja ataupun milih ngayem2 diri di rumah, suami selalu dukung, yang penting senyamanku aja #duh panjang juga aku cerita hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Mbak, klo gak didukung ma PakSu buat kerja lagi mah yaa ogah, di rumah aja juga asyik :)

      Semangat ya Mbak, moga promilnya segera berhasil. Jangan kecapekan ya Mbak, semua dibawa enjoy aja ;)

      Delete
  5. pasti berat banget ya diah untuk memutuskan bekerja lagi, tetep semangattt diah faraz pasti mengerti dirimu :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaah Mbak, makasiihh ya.

      I think you know me so well deh :*

      Delete
  6. saya juga sampai saat ini masih betah bekerja,
    selama masih tidak mengganggu waktu untuk keluarga, kenapa tidak ya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget tuh Mbak, harus bs bagi waktu dgn baik. *toosss Mbak ;)

      Delete
  7. hihihi gimanapun, kalau udah jadi istri.. emang ridho suami yang paling penting ya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupss, bener banget itu say :)

      Delete
  8. Bekerja atau tidak bekerja
    Seorang Ibu tetap menginginkan yang terbaik untuk semuanya.
    Aku mah salut pada dua-duanya. Baik yang bekerja mau pun tidak. Yang tidak bikin salut itu, full time di rumah tapi ...
    **Gak jadi ah, Teh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh, titiknya itu apa hayoo :p

      Delete
  9. Yang paling utama memang support dari suami ya mbak, juga keluarga yang mungkin nantinya terlibat dalam mengurus anak sleagi ditinggal kerja. Semangat mbak!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya Mbak, klo gak ada Keluarga yg menudukung jg susah, kasihan jg sih anak dititip di daycare, apalagi kan banyak berita horor, huhuhuh

      Delete

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa setelah membaca :)

nama yang jelas yaaa, NO ANONYMOUS please!! ^___^

Mohon maaf Link Hidup tidak akan diapprove :)

^^thanks for reading^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers