Monday, August 22, 2016

Full Day School? Yes, We Can!

Bismillahirrahmanirrahim..... 

Hmm, walau agak telat tapi mau ikut kekinian juga aah bahas tentang wacana gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita yang baru, Bapak Muhadjir Effendy yang akan menerapkan Sekolah Seharian atau lebih bekennya dengan sebutan Full Day School bagi siswa Pendidikan Dasar, SD dan SMP baik Negeri maupun Swasta. Ini sekalian menanggapi postingan Mak Yuniar Nukti di Web KEB tentang Ketika Jam Belajar Merenggut Kebebasan Bermain Siswa


Bagi saya pribadi yang saat ini berstatus working mom, akan mendukung gagasan Bapak Menteri ini. Alasan saya yah karena saya akan merasa lebih tenang jika anak saya tetap berada dalam pengawasan pihak sekolah hingga sore hari yang mana waktunya akan bersamaan dengan jam saya kembali ke rumah juga. Jadi ceritanya biar sekalian pulang kantor lanjut jemput anak juga. Walau, saat ini sih anak saya masih umur pra-sekolah. Tapi gak ada salahnya kan klo jauh hari udah memikirkan pilihan sekolah buatnya kelak, termasuk dengan jadwal sekolah itu sendiri.

Saya gak masalah dengan full day school itu, tapi mungkin baiknya jam masuknya itu bisa lebih dilonggarkan lagi, yang tadinya masuk jam 7 pagi nah jika full day school itu diterapkan bagaimana jika jam masuk anak sekolah itu disesuaikan dengan jam kantor orang tuanya, dimulai jam 8 pagi, misalnya. Kan jatuhnya bisa sekalian juga kan, orang tua antar anak ke sekolah kemudian lanjut ke kantor masing-masing. 


Alasan Pak Menteri ingin menerapkan full day school kan jelas juga tuh karena ingin agar para siswa mendapatkan pendidikan karakter di sekolah dan juga anak-anak tetap aman berada di sekolah selama orang tua mereka masih berada di tempat kerjanya masing-masing. Toh juga katanya penambahan jam sekolah itu tidak ikut menambah jam pelajaran. Bahkan malah akan membantu para guru juga dalam menambah jam tambahan agar bisa mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam dalam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru. 

Dengan adanya full day school juga berarti kegiatan siswa di sekolah akan padat. Bahkan kata teman-teman saya yang anak-anaknya sekolah di SD yang menerapkan full day school bahwa anak-anak itu punya banyak kegiatan di sekolah, saking banyaknya kegiatan terkadang mereka tidak dibekali lagi dengan Pekerjaan Rumah atau tugas tambahan dari sekolah. Kalaupun ada tugas dari sekolah biasanya malah PR yang melatih kemampuan berfikir mereka dalam menyelesaikan tugas prakarya dan tidak jarang saya melihat teman-teman saya itu membantu anak-anaknya membuat PR prakarya tersebut.  Atau di lain kesempatan, saya lihat teman saya sibuk menyiapkan keperluan anak-anaknya untuk kegiatan bazaar sekolah, yang biasanya disebut hari pasar. Nah, katanya di hari pasar ini mereka diminta untuk menjual berbagai dagangan yang telah disiapkan dari rumah. Nantinya tiap anak akan menjajakan jualan masing-masing. Yeaah, belajar jadi entrepreneur sejak dini. Keren, kan? :)
Dengan adanya full day school, orang tua jadi tidak perlu khawatir lagi dengan keberadaan anaknya jika mereka masih berada di tempat kerja masing-masing. Begitu pula dengan para Ibu Rumah Tangga atau orang tua yang bekerja dari rumah, tidak ada lagi kekhawatiran anak-anak untuk bolos sekolah atau mampir main ke tempat lain setelah jam sekolah berakhir karena jadwal anak di sekolah yang ditambahkan otomatis menjadikan anak lebih aktif lagi dalam kesehariannya. Sambil menunggu jam sekolah berakhir, para siswa bisa mengerjakan PR bersama, baik tugas individu maupun tugas kelompok. Jadi tidak ada lagi istilah anak akan ijin keluar rumah lagi setelah pulang sekolah hanya demi mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka begitu pula dengan pengayaan pelajaran dari sekolah, anak-anak tidak perlu repot bolak-balik lagi demi menghadiri kelas pengayaan di sore hari. 

Seperti saat saya sekolah dulu, pulang pukul 13:45 ehh harus balik sekolah lagi pada pukul 15:30. Ini kan tidak efektif. Saya yang dulu sekolah di daerah Kabupaten saja merasa lelah karena di rumah cuma duduk sebentar kemudian bersiap lagi ke sekolah untuk kelas pengayaan, fiiuuhh. Otomatis duit transport yang akan dikeluarkan akan bertambah pula karena dalam sehari harus dua kali ke sekolah. Nah, jika full day school kan cuma sekali saja. Duit transport sekali, jajan juga bisa sekali. Jika ingin lebih berhemat, mari biasakan anak-anak kita dengan membawa bekal. Lebih sehat, hemat dan pastinya lebih terjamin kehigienisannya ;)

Jadi, saya sih akan mendukung full day school jika jamnya disesuaikan seperti yang sudah saya sebut diatas tadi. Dan semoga alasan-alasan Bapak Menteri dalam mengagas ide full day school ini juga bisa tercapai sepenuhnya tidak hanya sekedar wacana semata. Dalam hal ini, semua elemen sekolah bisa menerima manfaat dari adanya full day school itu. Baik bagi siswa, tidak terbebani dengan tambahan pelajaran baru. Bagi guru, adanya jaminan mendapatkan tambahan jam untuk mendukung sertifikasi dan tentunya bagi kita orang tua akan merasa aman jika anak kita masih tetap berada dibawah pengawasan sekolah. So, Full Day School? Yes, We Can! :D

Bagaimana dengan Anda? Share yuuukk^^



 

26 comments:

  1. Kalau saya, Mbak, maaf yaa kita beda :) "Full day school? No, I can't" :D
    Saya gak kuat biayanya, Mbakkk... hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih mba, full day itu pasti nambah ongkos, secara kan gurunya nambah jam Pelajaran. Makanya anak-anak yg full day di kota2 besar, biaya sekolahnya kadang bikin saya menganga saking mahalnya. Untungnya kami tinggal di kota kecil, biaya masih relatif terjangkau













      .
      .









      Delete
    2. Mbak Diah: iyah juga sih Mbak, harganya bikin manyun. tapi Pendidikan kan emang mahal yah Mbak :(

      Mbak Nur Islah: iyah Mbak, klo disini SDIT yang udah menerapkan full day school itu, harganya yaahh gitu deehh bisa bikin megap2, tapi kan emang pendidikan mahal yah, hiiikss #brbambilkalkulator :D

      Delete
  2. zaman saya sekolah dulu, itu pengayaan bikin pusing, baru juga mau tidur siang, eh sudah harus bangun lagi karena mau ke sekolah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaah toh Kak? huuu itumi yg bikin sakit kepala -__-

      Delete
  3. aku sejak kecil full day school mbak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti udah terbiasa doong yah Mbak ;)

      Delete
  4. Masih banyak pro kontra masalah full day school ini ya, kalo menurut aku sih Bisa diterapkan di kota besar, tapi masih sulit untuk di pedesaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah siih Mbak, klo di pedesan masih harus berbenah banyak yah

      Delete
    2. di pedesaan bisa juga full day, pagi di sekolah umum, siangnya atau sorenya di madrasah

      Delete
  5. Kalo menurut saya sih, full day school itu gak perlu diterapkan ya soalnya kasian anak-anak nanti malah jadi nambah beban.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kembali lagi ke ortu masing-masing, ke anak-anak juga :)

      Delete
  6. pernah ngerasain full day school waktu SMU, enggak full bgt sih cuma dari jam7 sampe jam5, rasanya biasa aja hehehe tp ngantuk pake bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu maahh udah hitungan full day school, Mbak :)

      Delete
  7. aku setuju juga sama komentarnya JK
    sebenarnya fullday school kan sejak dulu sudah ada, yaitu dalam bentuk pesantren

    its oke sebenarnya. sangat membantu orangtua yang bekerja.
    tapi ya balik lagi ke masing masing ortunya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaahh Mbak, benarr balik ke ortu masing2 lagi.
      klo Dija gimana Mbak?? :)

      Delete
  8. Kalau anak2ku mau full day school? Yowes sana sekolah semua seharian, emak mau leyeh2 hahahaha #emakmacamapaaku :P

    Yg penting anaknya secara mental dan fisik siap, juga guru dan fasiitas sekolahnya udah bagus kyknya gpp

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahh, Mama pengen me time tiap hari doong hihih
      bener Mbak, yang penting semua udah siap, pasti Full Day School bakalan sukses terlaksana :)

      Delete
  9. Full day school ini yaaa hebring pisan.. Itu anak2nya bu guru gimana yaaq, ditinggal ortunya kerja :D
    Kualitas jgn sampai lupa, kan full tuh yaaa. Moga apapun metodenya, anak2 bisa ngikutin dan tambah cerdas ya

    ReplyDelete
  10. Jalan masih panjang untukmu Faraz..
    Masih banyak hal yang akan terjadi/berubah.
    *Apa kabar anakku? :D

    ReplyDelete
  11. Bedanya apa ya full day school ama pendidikan di pondok pesantren ?

    Di PonPes belajar nya dari pagi sampai malem malahan :D

    ReplyDelete
  12. Saya dari kampung pernah mengalami masa belajar yang tidak hanya tengah hari. pagi resmi sekolah di madrasah, siangnya hari-hari tertentu belajar kelompok tanpa pendampingan guru, malam hari belajar di rumah guru, mapel umum maupun baca quran. kami enjoy saja. soal biaya waktu itu tak ada guru kami yang mengeluhkan sedikitnya gaji, masih harus merelakan rumahnya jadi tempat ngumpulnya anak-anak. semua enjoy
    saya sendiri masih sempat sepulang sekolah untuk nyari rumput buat sapi

    ReplyDelete
  13. Teorinya memang bagus. Seandainya benar-benar diterapkan. Tapi pastinya bukan jalan yang mudah apalagi mengingat PR pendidikan masih banyak banget :)

    ReplyDelete
  14. Sekolah sampai sore itu sebenarnya memang melelahkan. Saya suka kasihan lihat anak-anak saya yang fullday. Pilihan fullday bukan karena sampai sorenya, tapi karena di sekolah bisa sekalian belajar mengaji dan situasinya kondusif untuk anak-anak. Apakah tidak ada TPQ dekat rumah? Ada, tapi hasilnya tidak seeprti yang saya harapkan...

    ReplyDelete
  15. Apapun keputusannya semoga yang terbaik buat anak-anak Indonesia ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah, full day school di kota saya sudah mulai efektif. Dan mayorits mendukung program tersebut. Kalau di sini, full day tidak hanya diberi pelajaran berat tiap harinya. Tiap hari akan diberi pelajaran pencerahan seperti pendidikan agama.

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa setelah membaca :)

nama yang jelas yaaa, NO ANONYMOUS please!! ^___^

Mohon maaf Link Hidup tidak akan diapprove :)

^^thanks for reading^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers